Connect with us

Opini

Dampak Negatif Styrofoam Bagi Kesehatan

Apa itu styrofoam?

Styrofoam memiliki nama lain polystrene adalah hidrokarbon cair yang dibuat secara komersial dari minyak bumi. Polystrene pertama kali ditemukan oleh Eduard Simon, seorang ilmuwan Jerman pada tahun 1839.  Pada suhu normal umumnya bersifat padat, namun dapat bersifat cair pada suhu yang lebih tinggi dan merupakan salah satu jenis plastik golongan 6. Styrofoam adalah plastik yang terbuat dari busa atau polystrene ekstruksi sel tertutup (XPS) atau biasa disebut  “Blue Board”. Styrofoam terbuat dari monomer stirena melalui polimerisasi suspensi pada tekanan dan suhu tertentu, selanjutnya dilakukan pemanasan untuk pelunakkan resin dan menguapkan sisa blowing agent. Lembaga kesehatan dunia (WHO), Internatonal Agency for Research on Cancer dan EPA(Enfiromental Protection Agency) telah mengkategorikan styrofoam sebagai bahan karsinogen. Pada plastik berbahan polysterene juga mengandung formalin(zat pengawet mayat). Bahan dasar yang digunakan adalah 90-95% polistirena dan 5-10% gas seperti butana dan pentana. Polistirena umumnya berwarna putih, bersifat ringan, kaku, rapuh, tahan air, dan tembus cahaya. Pada masyarakat awam lebih dikenal dengan sebutan gabus atau busa, dan biasanya digunakan sebagai pengganjal alat-alat elektronik seperti kulkas, televisi, mesin cuci, dan lainnya maupun pembungkus bahan pangan. Hal ini didasarkan pada keunggulannya yang praktis, murah, dan tahan lama sehingga menjadi daya tarik pemakaian styrofoam.

Penggunaan Styrofoam Sebagai Wadah Makanan

Seperti yang telah kita ketahui bahwa penggunaan syrofoam sudah sangat meluas terutama sebagai wadah makanan dan minuman. Bahan styrofoam memang sangat membantu dalam mengemas makanan atau minuman. Bahannya ringan, mudah dibawa, murah, tahan air, dan dapat menjaga suhu makanan tetap hangat. Namun tanpa disadari dibalik kelebihan dari penggunaan styrofoam juga terdapat dampak negatif bagi kesehatan. Hal ini karena styrofoasm mengandung benzena dan stirena yang dapat memicu pertumbuhan sel kanker. Badan kesehatan dunia, World Health Organization menyatakan “benzena adalah zat kimia yang bersifat karsinogenik atau menyebabkan tumbuhnya sel kanker di dalam tubuh”. Sedangkan fakta untuk stirena tidak jauh berbeda dengan benzena karena zat ini juga menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan.

Styrofoam berbahaya bagi kesehatan apabila digunakan secara terus-menerus dan dalam jangka panjang. Bahaya styrofoam berasal dari kontaminasi stirena ke dalam makanan terutama makanan panas dan berkuah. Perpindahan zat kimia ini didasari beberapa faktor, diantaranya suhu makanan, lama kontak dengan makanan, dan tingginya lemak makanan. Apabila styrofoam digunakan sebagai wadah makanan dalam keaadaan panas maka perpindahan stirena ke dalam makanan akan semakin mudah dan sangat cepat. Oleh karena itu hindari penggunaan styrofoam untuk makan dalam keadaan panas. Lamannya kontak makanan dengan styrofoam juga berbahaya bagi kesehatan karena zat stirena yang melekat pada makanan akan memicu penyakit berbahaya. Tingginya kandungan lemak akan menyebabkan kontaminasi stirena lebih banyak dibandingkan dengan makanan yang lemaknya sedikit. Walaupun demikian, baik makanan berlemak tinggi maupun rendah apabila sudah terkontaminasi dengan zat stirena akan berbahaya bagi kesehatan. “saya tidak bisa membayangkan kalau styrofoam digunakan untuk makanan panas, berlemak, dan berkuah, misalnya kopi, maka zat stirena tersebut akan lebih cepat bermigrasi ke kopi dan minuman itu kita konsumsi maka entah apa yang terjadi,” kata RA.

Gangguan Kesehatan Akibat Kontaminasi Zat Stirena

Bahaya styrofoam disebabkan oleh perpindahan zat kimia yang ada di dala m styrofoam ke makanan atau minuman yang dikonsumsi. Disamping dapat memicu tumbuhnya sel kanker, zat stirena juga berpotensi menyebabkan insomnia, sakit kepala, sakit ginjal, gangguan pada sistem saraf, mempercepat detak jantung,  meningkatkan risiko leukimia dan limfomia, mengganggu siklus mensrtuasi, serta dapat menghambat perkembangan dan pertumbuhan  janin bahkan menyebabkan cacat pada bayi. Akan tetapi gangguan kesehatan tersebut masih bisa dicegah dengan tidak menggunakan styrofoam secara berulang atau digunakan hanya untuk sekali pakai, hindari penggunaan styrofoam untuk makanan panas, hindari kontak langsung dengan styrofoam menggunakan kertas nasi sebagai alas terhadap styrofoam, serta menghindari penggunaan styrofoam pada makanan berminyak dan berlemak.

Melihat dari banyaknya bahaya dibalik penggunaan styrofoam, tentu saja kita setuju bahwa wadah ini buka lagi pilihan tepat untuk kemasan pangan terutama makanan panas dan basah. Padahal Badan Kesehatan Dunia(WHO) sejak lama melarang penggunaan styrofoam untuk kemasan pangan karena akan berdampak buruk bagi kesehatan. Namun, masih banyak negara yang belum menyadari terhadap bahaya yang ditimbulkan dari zat stirena apabila masuk ke dalam tubuh, sehingga mereka masih menggunakannya sebagai wadah makanan, salah satu contohnya adalah negara Indonesia. Lalu kemasan apa yang aman dan dapat dijadikaan alternatif untuk tempat makanan? Berikut adalah jenis tempat makanan atau minuman yang aman digunakan sebagai alternatif pengganti styrofoam yaitu tempat makan berbahan kaca, plastik yang tidak mengandung polistirena, kayu, tembikar, stainles steel, keramik, dan sebagainya yang bisa digunakan berulang kali.

Penulis – Henny Amelia, Raida Aulia, Muna Masyu Abbas, Azidi Irwan (Mahasiswa dan Dosen Program Studi Kimia FMIPA ULM)

*Dikutip Dari Berbagai Sumber

 

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial