Connect with us

obituari

Pelukis Sulistyono Hilda Wafat, Tak Sempat Wujudkan Niat Baik Terakhirnya

BANJARBARU, RK – Para seniman seni rupa Kalimantan Selatan kembali berduka. Pelukis Sulistyono Hilda (53) menutup usia pada Sabtu (22/2/2020) di RS Ulin, Banjarmasin, pukul 11.30 Wita. Setelah tak berapa lama lalu, Desember 2019, telah ditinggalkan pelukis Noor Sholihin HIdayat.

Kabar wafatnya pelukis Sulistyono ini cukup mengejutkan beberapa sejawatnya di media sosial. Ia memang sudah cukup lama menjalani perawatan di RS Ulin pasca mengalami kecelakaan sekitar satu bulan lalu. Hanya saja tidak banyak yang menyangka bila ia mengalami sakit parah.

Hudan Nur, penyair sahabat almarhum, ketika dihubungi menerangkan, sebenarnya Mas Sulis—begitu almarhum biasa disapa, mengalami dua kali kecelakaan.

“Setelah mengalamai kecelakaan beberapa waktu lalu, ternyata lukanya tidak sembuh-sembuh. Lalu dibawa ke rumah sakit. Tenyata gula darahnya 210, dan sempat tak sadarkan diri,” terang Hudan kepada riliskalimantan.com.

Dan terakhir, sebut Hudan, kemarin (21/2) sempat cuci darah. “Semua badan bengkak,” tambah Hudan.

Almarhum rencananya disalatkan di Masjid Al Jihad, Jl Cempaka Besar, Banjarmasin, usai Salat Ashar, (22/2/2020). Selanjutnya akan dimakamkan di Alkah Muhibbin, Martapura. Almarhum meninggalkan seorang istri, dan dua anak perempuan remaja.

Sulistyono Hilda dikenal sebagai pelukis yang telah memiliki reputasi dan prestasi, baik di tingkat nasional maupun internasional. Ia terpilih sebagai Nominator Beijing International Art Biennale 4th 2010 (BIAB 4th), dan juga mengikuti sejumlah event internasional seperti Asian International Art Exhibition di Qingdao China, Flanders Bruges Brussel Biennale di Belgia , The Best Artis Modern and Contemporer Art  2018 by Fracesco Russo dan Salvatore Russo, serta Cavargia di Milan Italia.

Karya-karya lukisnya dikoleksi sejumlah kolektor lukis nasional dan Kalsel. Termasuk di kediaman rumah Walikota Banjarbaru, terpampang sejumlah lukisannya dalam ukuran besar. Ia juga yang melukis tower di Taman Van der Pijl, Banjarbaru.

Ia juga kerap membantu rekan sastrawan dalam membuat ilustrasi. Seperti pada cerita anak karya Hudan Nur yang berhasil menjuarai lomba yang digelar Balai Bahasa Kalsel tahun lalu. Termasuk juga dalam rancangan buku puisi Stadium Tanah Ibu karya Ali Syamsudin Arsi yang dalam proses diterbitkan.

Tak hanya sebagai pelukis, Sulistyono juga dikenal sebagai perupa. Tahun 2019 lalu dia memamerkan karyanya yang terdiri dari ribuan rotan membentuk wajah dalam ukuran besar di Taman Budaya Kalimantan Selatan, Banjarmasin.

Sebelum terjadi peristiwa kecelakaan yang kemudian membuatnya terbaring begitu lama di rumah sakit, Sulistyono sempat menyampaikan keinginan besar kepada sejumlah rekannya yang biasa ngumpul di Mingguraya. Yakni ingin membuat koperasi untuk para seniman. Bahkan untuk itu ia baru saja selesai membuat CV Kandang Rasi.

“Saya ingin membangun ekonomi kreatif dan inovatif bersama para seniman. Bagaimana kita bisa berkembang bersama-sama dan sejahtera,” ucapnya.

Kini, keinginan itu takkan lagi bisa terwujud. Namun setidaknya ia telah berniat baik. Selamat jalan, Mas Sulis… (snd)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial