Connect with us

Lifestyle

Sumasno Hadi: Behind The Show Derana adalah Bentuk Karya yang Relevan dengan Realitas Musik di Era Digital

ENAM komposisi musik karya Novyandi Saputra yang dikemas secara filmis tayang pada 21 Juli 2021 di kanal Youtube NSAPM_. Secara teknis, penayangan karya Novyandi berjudul “Behind The Show Derana” yang didukung NSA Project Movement dan Bias Studio, dinilai berjalan lancar dan sukses.

Mengutip tulisan Sumasno Hadi di https://staf.ulm.ac.id/sumasnohadi, secara bentuk, pertunjukan Behind The Show Derana (BTSD) dirajut oleh dua tonalitas atau modal musikal, yakni musik diatonis (musik Barat) dan musik non diatonis (atau “pentatonis” Gamalan Banjar).

Penyebutan istilah dalam tanda kutip itu, meskipun tidak tepat secara terminologis musik, namun paling mudah untuk dipahami secara umum.

Masing-masingnya, diatonis dan pentatonis, punya material-struktur musikal yang berbeda, pun punya sejarah dan dialektika budaya masyarakat pendukung yang berlainan.

Wajah musik diatonis BTSD dapat ditemukan pada bunyi instumen suling/seruling (bambu) yang dimainkan oleh Sri Masrifah, gitar (akustik dan elektrik) yang dibawakan Ferri, serta bunyi vokal yang dinyayikan oleh duet Yoan dan Salma.

Sedangkan wajah non diatonis dapat kita temukan pada bunyi istrumen musik yang bertumpu pada perangkat Gamalan Banjar. Di antaranya instrumen dawu (gamelan Jawa: bonang) yang dimainkan sendiri oleh Novi, lalu sarun ganal (gamelan Jawa: saron) yang dimainkan Surya, sarun halus yang dimainkan Robby (ia juga memainkan kendang/ketipung), sarantam (gamelan Jawa: serentem) yang dimainkan Khalifaturridha.

Kedua tonalitas musikal tersebut teramat jelas menopang bangunan karya BTSD. Lantas, apakah dengan demikian bangunan musik BTSD menjadi kukuh, proporsional lagi estetik? Belum tentu. Pada susunan bentuk instrumentasinya, agaknya komposisi musik pada BTSD masih dapat kita lihat kekuatannya.

Pada keenam komposisinya, seluruhnya dibangun dari pemilahan organologi instrumen musik yang bersifat opositif (berlawanan), namun seimbang. Di sana ada tiga perangkat gamalan Banjar (non diatonis) yang digunakan seperti dawu, sepasang sarun dan sarantam. Tiga perangkat diatonisnya dibebankan pada: seruling bambu, gitar akustik-elektrik, dan vokal. Inilah yang menjadi kekuatan awal komposisi BTSD, dari sisi susunan instrumentasi yang seimbang.

Meski punya potensi yang kuat, sayangnya Novi belum melanjutkan pada penyelesaian bunyi-harmonis yang “ideal”, sebagaimana bunyi yang menjadi bayangan estetis pendengar umum. Laras, harmonis, enak, dan indah.

Persoalan ini, sepertinya lebih disebabkan oleh faktor organologis. Pada tritunggal alat tabuh gamalan, meskipun bernilai ganda: melodis sekaligus harmonis, namun performa akhirnya masih cenderung bersifat melodis belaka.

Demikian karena instrumen yang digunakan nampak jelas perbedaan tuning bunyinya. Antara dawu, sarun dan sarantam, masing-masing punya kuantitas frekuensi bunyi yang tidak tune in. Akibatnya, ketiganya tak memenuhi kualitas harmonis yang kerap dibayangkan oleh pendengar umum.

Bunyi perangkat gamelan yang digunakan BTSD tidak menggunakan intrumen yang berbasis komunitas/seniman tertentu, sehingga masing-masingnya berbeda sistem bunyinya.

Akibatnya, hal ini menimbulkan beban musikal yang amat berat bagi gamelan, untuk dapat berdialog dengan perangkat musik diatonis (seruling, gitar, vokal). Dampaknya bagi pendengar, sajian BTSD pun terasa menjadi sebuah konfrontasi (perang) bunyi, ketimbang dialog.

Analoginya, meskipun punya tema atau wacana yang sama, namun bunyi musik gamelan dan diatonis belum menggunakan “bahasa” yang sama, sehingga posisi setara dalam dialog tidak tergapai.

Saya tidak tahu, apakah hal ini memang didasari oleh kesadaran musikal Novi sang komposer, atau oleh sikap musikal yang keras kepala. Entahlah?

Daripada berandai-andai, mari kita lihat konfrontasi musikal yang cukup tajam pada komposisi BTSD, utamanya pada lima judul kompisisi awal yang disajikan. Pada komposisi yang keenam, “Luruh”, ketajaman perang musikal terasa lebih reda. Suasananya lebih cinta damai tanpa pergolakan (hehehe).

Kalau mau mencari-cari aktor instrumentasi BTSD yang menyulut konfrontasi musikal, maka saya akan langsung menunjuk pada bunyi sarantam, yang dimainkan oleh Khalifaturridha alias Jabuk (?). Secara teknis, tentu permainan bunyi sarantam tidaklah bermasalah.

Bahkan, Jabuk cukup berhasil mendengungkan bilahan tembaganya secara ekspresif di seluruh lagu-komposisi. Persoalannya bukan pada konteks itu, namun pada peran-fungsional harmonisnya pada kesuluruhan bentuk komposisi BTSD.

Kembali pada beban akustika bunyi perangkat gamelan, seperti saya sebut sebelumnya, frekuensi bunyi sarantam adalah yang paling banyak menyulut konfrontasi dengan harmoni musik diatonis (seruling, gitar, vokal). Sifat bunyinya yang lebih panjang (sustainable), menambah panjang durasi tabrakan.

Hasilnya, bunyi-bunyi enharmonis (sumbang) menjadi konsekuensi dengarnya, khususnya pada kelima komposisi awal.

Suasana ini sangat berbeda dengan komposisi terakhir berjudul “Luruh”. Demikian karena, teknik permainan sarantam yang lebih hemat namun proporsional menyesuaikan stuktur bentuk lagu, malahan menyumbangkan bobot dialog musikal yang cukup berhasil.

Pada komposisi ini, agaknya visi sang komposer untuk mendekatkan gamelan pada wacana budaya populer telah tersampaikan. Pada aspek dengar umum, lagu ini boleh dibilang yang paling “ngepop”. Nilai “pop” pada konteks ini, sebenarnya bersumber pada komunikasi logis yang efektif, pada posisi dialog seimbang yang setara.

Akhirnya kita boleh bertanya, mengapa Novi membawa visi dialogis musikal yang bersumber pada materi Gamalan Banjar? Apa nilai substansinya? Menjawab pertanyan semacam ini, kita bisa melihat pandangan Novi pada pernyataan-pernyataannya di awal dan sela pertunjukan BTSD.

Intinya, menurut Novi, karya Behind The Show Derana adalah suatu upaya untuk membawa Gamalan Banjar pada realitas hidup masyarakat modern-kontemporer. Gamelan ingin masuk dan berkontribusi pada denyut hidup kekinian. Dan pilihannya adalah ruang budaya populer (pop) pada masyarakat urban-kota.

Soal visi tersebut, pada tataran konsep, teknik intrumentasi dan bentuk musikal yang dipilihnya, sangatlah tidak menjadi soal. Persoalannya adalah pada realitas bahasa musik yang berlaku pada masyarakat kontemporer, yang barangkali belum dapat diajak berdamai dengan kultur Gamalan Banjar.

Jika spiritnya adalah perdamaian musikal secara dialogis, bukankah hal itu memerlukan usaha untuk saling berterima, memahami dan bahkan berkorban? Siapkah Gamalan Banjar untuk melakukan itu? Material instrumentasinya, tentu saja sangat siap dan netral. Subjeknya, belum tentu. Ini dapat dipahami mengingat eksistensi musik gamelan dan musik-musik tradisi etnikal yang lain, pada arena kebudayaan modern kita cenderung berposisi marginal.

Konkretnya, coba bandingkan saja ruang dan sarana musik yang ada pada lingkungan masyarakat kita. Seberapa luas ruang musik tradisi jika dibandingkan dengan musik modern?

Di luar persoalan teknis-musikal yang saya kritis pada pertunjukan BTSD, saya kira yang paling penting untuk kita catat adalah pada daya kreativitas Novi dan rekan kelompok senimannya.

Bentuk karya musik BTSD yang dipertunjukan secara daring semalam, yang dikemas dalam format film naratif “di balik pertunjukan” (behind the show), adalah bentuk karya yang cukup relevan dengan realitas musik di era digital ini.

Dan meskipun dibungkus dengan daya idealisme kreatif “keras kepala”, namun spirit dialogis musikal yang menjadi subtansi karyanya, tentulah akan kita sepakati sebagai sikap yang sangat artistik lagi realistis.

Sumasno Hadi berpendapat Novi adalah seniman yang “keras kepala”, dalam arti terus memertahankan keyakinan kesenimananya. Ini nampak dalam hal bagaimana ia bertahan pada konsep dan bentuk pertunjukan “Derana”.

Meskipun hal itu punya konsekuensi praktis, yakni gagal bekerjasama dengan pihak Taman Budaya Kalimantan Selatan, dengan segala konsekuensi substansial maupun materialnya.

Sikap “idealis” yang dapat dianggap lebih berdaya-tawar semacam ini, saya kira patut untuk kita apresiasi dan hormati. Terutama di tengah-tengah banyaknya sikap “pragmatis” yang lebih bertendens pada materi dan manfaat langsung.(Andi)

Editor : Andi

 1,059 Views

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *