Connect with us

Seni Budaya

Dewan Kesenian Banjarmasin dan Upaya Pemajuan Kota

Oleh: Hajriansyah*)

 

DINAMIKA kesenian selalu menjadi bagian dari dinamika perkembangan sebuah kota. Dari waktu ke waktu, kesenian menjadi bagian integral ciri kota yang berkemajuan dalam peradaban mana saja. Ketika Dinasti Abbasiyah di Baghdad menjadi salah satu pucak peradaban Islam, selain Baitul Hikmah yang menjadi ciri intelektualitas masanya, perkembangan seni kaligrafi Islam juga menunjukkan puncak perkembangannya melalui tangan Ibnu Muqlah. Begitu pula syair dan tarian sufi mengangkat kota Konya di Anatolia bersama nama besar Rumi.

Abad pertengahan Eropa yang gelap berakhir seiring dengan Renaisans di kota-kota Italia, mengukir nama-nama seniman besar semacam Dante, Giotto, dan puncaknya—dalam seni rupa—pada nama Leonardo da Vinci dan Michaelangelo. Perancis modern tumbuh pascarevolusi dengan seni lukis, sastra, dan filsafat. Demikian pula di nusantara, kota-kota pedalaman dan pesisir tumbuh bersamaan dengan kesenian istana dan masyarakat pesisir yang lebih egaliter. Tari, musik, drama, sastra, dan karya-karya seni rupa oleh para seniman istana maupun seniman rakyat—yang sebagian anonim, tercatat dalam sejarah sebagai penunjang kemajuan kota-kota tersebut. Di antaranya, kota Banjarmasin.

Pada masa Wali Kota Banjarmasin Effendi Ritonga (1984-1989) perkembangan kesusasteraan Banjarmasin begitu semarak. Lomba-lomba karya sastra, modern maupun tradisional, berjalan seiring dengan produktivitas berkarya para seniman yang sangat intens. Pergelaran, penulisan, publikasi karya, termasuk juga dengan muhibah kesenian para seniman/ sastrawannya ke luar daerah mengangkat nama-nama semacam Hijaz Yamani (yang juga menjabat Ketua DPRD Kota Banjarmasin), Ajamuddin Tifani, Micky Hidayat, dll. Karya lukisan dinding oleh para pelukis Banjarmasin (di atas media tripleks yang ditempel di gedung Balaikota), yang menggambarkan kebudayaan Banjar, bahkan masih “abadi” hingga hari ini, juga dibuat pada masa ini.

Dewan Kesenian Banjarmasin mulai ada pada tahun 1994, menindaklanjuti Instruksi Mendagri No. 5A Tahun 1993, menyertai keberadaan Dewan Kesenian Daerah Kalimantan Selatan yang sudah ada sejak tahun 1971. Selama 27 tahun ini telah ada empat periode kepemimpinan Dewan Kesenian Banjarmasin (DK-Bjm), dimulai dari periode Ketua Farid Syuhada (1994-1997), kemudian Ketua Suyatno (2002-2005), Ketua Helda Elly Setyawaty (2013-2018), dan kini (yang akan dilantik) Ketua Hajriansyah (2021-2026).

Dinamika kepemimpinan pada masing-masing periode tersebut tentu memberikan pengaruh, sedikit atau banyak, pada perkembangan kesenian di kota Banjarmasin, terlepas dari kekurangan maupun kelebihannya. DK-Bjm yang diharapkan menjadi jembatan dan “penyambung-lidah” para seniman kepada Pemerintah Kota Banjarmasin tentu saja memiliki tanggung jawab terhadap para seniman sebagai figur-figur yang mewarnai kemeriahan kesenian dan intelektualitas di kota Banjarmasin.

Adakalanya para seniman mengambil peran secara mandiri dalam perjuangan aspirasi mereka, dan adakalanya pula pemerintah lewat dinas terkait mendukung dan merangsang bakat-bakat baru tumbuh dan berkembang. Hubungan di antara keduanya pun berjalan dengan dinamika kepemimpinan, birokrasi, kreativitas dan inisiatif yang tarik ulur di antara keduanya.

Periode kepemimpinan DK-Bjm (2021-2026), yang baru saja dilantik pada Sabtu 4 September 2021, tentu saja mengusahai semangat baru. Berbeda dari periode-periode sebelumnya, di mana sebagian pengurusnya, dari puncak hingga dasar, diduduki oleh birokrat dan politikus—yang diharapkan memudahkan aspirasi dan pembiayaan kerja lembaga ini, periode kali ini benar-benar hanya diduduki para seniman dan akademisi seni. Ada semangat kemandirian dan kemitraan yang benar-benar ingin dikedepankan. Tentu perlu suatu komitmen yang besar dan komunikasi yang intens, yang mesti dibangun oleh Pengurus DK-Bjm kali ini.

Maka sebaliknya pula, diharapkan komitmen pemerintah terhadap para seniman dan (aspirasi) kesenian yang diemban mereka. Adanya penganggaran yang memadai untuk kerja-kerja kesenian, yang tidak secara langsung mendorong kemajuan kota, perlu diupayakan. Selain dukungan eksekutif, peran legislatif sangat diharapkan dalam hal ini. Tidak terkecuali stakeholder lain, mitra kerja perseorangan maupun unit usaha swasta, dapat memberikan insentif untuk pemajuan kesenian di kota Banjarmasin. Dukungan lembaga pendidikan tinggi, melalui kerjasama intelektual dan fasilitas lain, juga organisasi sosial lainnya, pun turut diharapkan.

Dengan demikian, upaya menjembatani kepentingan estetika, pendidikan, politik dan pemajuan usaha dapat berjalin kelindan, menjadikan kota Banjarmasin yang indah dengan liuk-liuk sungainya sebagai kota berbudaya yang berkemajuan. Sebagaimana telah diilustrasikan pada pembuka tulisan ini, kita berharap kota Banjarmasin yang kita cintai ini dapat dicatat dalam sejarah, di antara kota-kota lainnya di Indonesia dan dunia, sebagai kota berperadaban tinggi.

 

*) Penulis adalah Ketua Dewan Kesenian Banjarmasin Periode 2021-2026

Foto: Yani Makkie

 261 Views

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *