Connect with us

Seni Budaya

Lebih “INTIM” dengan Karya Lukis Hajriansyah di Rumah Oettara Banjarbaru

APRESIASI: Ketua Harian Dewan Kesenian Kota Banjarbaru Yani Makkie saat melihat karya lukisa Hajriansyah (tengah) di Rumah Oettara, Banjarbaru, Sabtu (23/7/2022). (foto: rumah oettara))

Banjarbaru, riliskalimantan – Pelukis asal Banjarmasin Hajriansyah menggelar pameran tunggal di Rumah Oettara, Jalan Junjung Buih, Banjarbaru Utara. Dibuka dari 23 Juli, sebanyak 23 karya lukis Hajri dipamerkan selama sebulan penuh sampai 23Agustus 2022.

Ada banyak perspektif yang bisa dibaca dan dilihat dari karya-karya Hajri dengan tajuk “INTIM” ini. Hampir semua karyanya bernuansa sufistik. Bisa dilihat dari beberapa obyek lukisannya yang menggambarkan sosok sufi, seperti pakaian hirqa atau tunik putih yang merupakan simbol dari kain kafan serta tennur atau bawahan lebar melingkar. Juga penutup kepala sikke atau tarbus, topi tinggi.

Sosok-sosok sufi itu ada yang menari, meniup seruling, bermain musik, juga menggelar pelajaran antara guru dan murid. Ada banyak kupu-kupu melingkupi sebagian obyek sufi itu, yang bisa kita maknai sebagai kelembutan, keindahan, dan hanya menyukai sari-sari kehidupan.

Pada beberapa lukisan pohon yang hanya berdiri tunggal, bisa jadi Hajri mencoba memberikan perenungan bahwa hidup hanyalah sekadar persinggahan sementara di bawah naungan pohon. Atau pada gambar burung-burung yang mengingatkan kita akan karya sastra seorang sufi Attar berjudul Musyawarah Burung. Selain itu, ada juga gambar rumah Banjar dalam ukuran besar.

Dengan obyek yang dilukis dan tema “INTIM” yang diusung, Hajri seolah ingin menegaskan tentang hubungan kita sebagai manusia kepada Sang Pencipta, alam, dan kehidupan.

“Saya sendiri belakangan sangat intim dengan dunia lukis,” ujar Hajri, Sabtu (23/7/2022), yang juga seorang penulis karya sastra (puisi dan cerpen). Sebagai pelukis, hal itu sudah lama dijalaninya semenjak kuliah seni rupa di Yogyakarta.

Ada banyak hal yang diharapkan Hajri untuk pameran lukisannya kali ini.”Pertama, tentu saja ini sebagai ekspresi dari jiwa saya yang sudah lama menggeluti dunia lukis. Kedua, pameran di Rumah Oettara sebagai sebuah kafe, ini menunjukkan bahwa ruang pameran seni rupa tidak hanya terbatas pada gedung atau bangunan yang sudah umum, tapi juga bisa menggunakan ruang alternatif semacam ini,” ujarnya.

Yang terpenting, lanjutnya, membuka apresiasi yang lebih luas kepada khalayak tentang seni rupa. Namun, untuk apresiasi ini, ia banyak berharap ada kesadaran yang lebih terbuka pada para tokoh, pengusaha atau orang=orang kaya, serta stakeholder.

RUMAH BANJAR: Hajriansyah saat menjelaskan tentang karyanya. (foto: rumah oettara)

“Selama ini, yang masih belum terbangun adalah kesadaran para orang-orang berduit di Kalsel pada perlunya mengapresiasi seni rupa atau lukisan. Ada banyak pengusaha dan orang kaya di Kalsel, namun apakah mereka memiliki jiwa seni yang tinggi dengan mengoleksi lukisan—lukisan karya perupa banua?” ucapnya setengah bertanya. Kalau koleksi mobil dan rumah, menurutnya, itu sudah pasti.

Sementara, lanjutnya, seniman lukis dalam berkarya tidak hanya sekadar mengekspresikan diri dan jiwa seninya, tetapi dia juga perlu hidup dan terus berkarya dari hasil lukisannya. “Sebab itu, para pelukis Kalsel sangat perlu dengan apresiasi orang-orang kaya banua untuk membangun ekosistem tumbuh kembang seni rupa dengan menghargai dan membeli karya mereka,” katanya, sembari menyebutkan contoh sejumlah pengusaha kaya seperti pemilik Sampoerna yang mengoleksi banyak lukisan.

Namun Hajri juga menyatakan, bahwa untuk membeli lukisan juga tidak mesti harus kaya-kaya amat. “Sebab, ada sejumlah lukisan yang harganya masih tidak terlalu tinggi. Yang terpenting, adanya kesadaran untuk memberikan apresiasi terhadap karya seni lukis di banua dengan cara memilikinya, sehingga perlahan ekosistemnya akan terbangun,” tandasnnya.

Sementara owner Rumah Oettara Novyandi Saputra mengatakan, pameran ini bentuk kolaborasi antara dunia usaha dengan seni. “Ayo datang ke Rumah Oettara, lihat dan apresiasi karya seni sembari menikmati kopi,” ajaknya.

Rumah Oettara sendiri memang sudah akrab dengan berbagai kegiatan seni dan kebudayaan. Seperti pertunjukan teater, diskusi, serta bedah buku. Dengan menjadi wadah pameran tunggal karya Hajriansyah ini, semakin menunjukkan keintiman Rumah Oettara dengan bermacam kegiatan seni dan budaya. (snd)

Editor: Sandi Firly

 

 

Di Posting 27/07/2022 10:52 AM by Sandi Firly

 213 Views

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *