Connect with us

Ragam

Balai Bahasa Kalsel Gelar Bimtek Penulisan Cerita Anak Berbahasa Banjar

TIGA HARI: Kepala Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Selatan, pemateri, dan para peserta berfoto bersama sebelum acara dimulai pada hari pertama Bimtek Penulisan Cerita Anak Berbahasa Banjar, Rabu (28/9/2022). (foto: balai bahasa)

BANJARBARU, RILISKALIMANTAN.COM – Untuk memperkaya bahan bacaan anak berbahasa Banjar, Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Selatan menggelar Bimtek (Bimbingan Teknis) Penulisan Cerita Anak Berbahasa Banjar selama tiga hari. Dimulai dari Rabu, 28 – 29 – hingga Jumat 30 September 2022.

Bimtek ini menghadirkan tiga narasumber yang masing-masing mengisi materi satu hari. Pada hari pertama penulis cerpen juga novel, dengan materi Proses Kreatif Penulisan Cerita Anak.  Pada hari kedua narasumber Nailiya Niikmah, penulis yang juga dosen Politeknik Negeri Banjarmasin dengan materi Lokalitas Dalam Cerita Anak. Hari ketiga Johnny Tjia, yang merupakan periset serta pegiat program bloom, dengan materi Penulisan Cerita Anak dan Publikasi  Karya dalam Program Bloom.

Sebanyak 40 peserta mengikuti bimtek terdiri dari berbagai kalangan. Ada yang memang sudah aktif menulis, guru, mahasiswa, dan ibu rumah tangga. Tak hanya berasal dari Banjarbaru, tapi juga ada yang berasal dari Banjarmasin, Barabai, Tapin, hingga Batola. Mereka terpilih mengikuti bimtek di Aula Balai Bahasa berdasarkan hasil seleksi karya yang dikirimkan.

Sandi Firly yang memberikan materi pada hari pertama memaparkan tentang Proses Kreatif Penulisan Cerita Anak.  Namun sebelumnya, Sandi terlebih dulu menerangkan bahwa anak-anak memiliki jenjang bacaan. Mulai dari pembaca dini atau prabaca (0-5 tahun), pembaca awal (6-10 tahun), pembaca lancar (10-12 tahun), pembaca madya (13-15 tahun), dan pembaca mahir (16 tahun ke atas).

BIMTEK: Sandi Firly, Pemred RIliskalimantan.com saat memberikan materi penulisan pada bimtek di aula Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Selatan, Rabu (28/9/2022).

Dalam bahasannya, Sandi fokus pada menulis cerita untuk anak usia 10-12 tahun, atau usia pendidikan kelas 4-6 SD.

“Dalam menulis cerita untuk anak, hal yang perlu diperhatikan adalah soal Bahasa. Bahasa dalam cerita harus mudah dimengerti oleh mereka. Dan terpenting, bahwa cerita itu mesti memuat amanat atau pesan yang mengandung nilai pendidikan dan moral,” ujar Sandi yang juga Pemred Riliskalimantan.com ini.

Untuk tokoh utama cerita, jelas Sandi, dapat harus mampu menjadi contoh bagi pembaca anal. “Sebab, anak bisa mengidentifikasikan dirinya sebagai tokoh itu. Karenanya, tokoh utama anak harus dibuat bahagia pada akhir cerita. Jangan sampai tokoh ini kalah atau berakhir sedih, karena itu bisa meninggalkan trauma pada anak,” ujarnya.

Pada cerita anak, lanjut Sandi, juga harus memperhatikan hal-hal terlarang atau perlu perhatian khusus. Cerita anak tidak boleh memuat seks atau pornografi, sadisme, paham berbahaya, juga kata atau kalimat kasar dan jorok. “Pada dasarnya anak-anak suka meniru, maka hindari penggunaan kata yang kasar atau jorok, agar mereka tidak turut meniru,” jelas penulis yang pernah terpilih mengikuti Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) Bali, sebuah festival berskala internasional.

Bimtek juga berlangsung aktif. Para peserta saling memberi komentar, koreksi, tak terkecuali juga pujian pada karya-karya peserta saat dibacakan.

Sebelumnya, Kepala Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Selatan Muhammad Lutfi Baihaqi saat membuka acara mengatakan , bimtek dimaksudkan untuk mencari cerita atau penulis khusus anak. “Kita masih menambah cerita anak terutama berbahasa Banjar,” ujarnya, didampingi Kasubbag Umum Balai Bahasa Mangara Siagian S.

Dengan bimtek ini Lutfi berharap akan diperoleh output berupa cerita-cerita anak yang nantinya bisa ditayangkan secara online di bloom library.  “Namun kami juga mengupayakan agar bisa dibuat dalam bentuk cetak atau buku,” ujarnya.(snd)

 

Di Posting 30/09/2022 9:57 AM by Sandi Firly

 375 Views

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *